Terbelahnya Umat Islam Dalam Dua Kemah Di Akhir Zaman


Image result for Terbelahnya Umat Islam Dalam Dua Kemah Di Akhir Zaman

Dari Abdullah bin ‘Umar ia berkata:
كُنَّا قُعُودًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ فَذَكَرَ الْفِتَنَ فَأَكْثَرَ فِي ذِكْرِهَا ……… ثُمَّ فِتْنَةُ الدُّهَيْمَاءِ لَا تَدَعُ أَحَدًا مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا لَطَمَتْهُ لَطْمَةً………. حَتَّى يَصِيرَ النَّاسُ إِلَى فُسْطَاطَيْنِ فُسْطَاطِ إِيمَانٍ لَا نِفَاقَ فِيهِ وَفُسْطَاطِ نِفَاقٍ لَا إِيمَانَ فِيهِ فَإِذَا كَانَ ذَاكُمْ فَانْتَظِرُوا الدَّجَّالَ مِنْ يَوْمِهِ أَوْ مِنْ غَدِهِ
“Suatu ketika kami duduk-duduk di hadapan Rasulullah SAW memperbincangkan soal berbagai fitnah, beliau pun banyak bercerita mengenainya. ……kemudian Fitnah Duhaima’ yang tidak membiarkan ada seseorang dari umat ini kecuali dihantamnya. …… sehingga manusia terbagi menjadi dua kemah, kemah keimanan yang tidak mengandung kemunafikan dan kemah kemunafikan yang tidak mengandung keimanan. Jika itu sudah terjadi, maka tunggulah kedatangan Dajjal pada hari itu atau besoknya.”[1]
Tentang fitnah Duhaima’ yang berarti kegelapan yang amat sangat, para ulama menjelaskan bahwa ia merupakan fitnah berkembangnya paham, pemikiran dan aliran sesat – da’awat mudhillat. Pasca runtuhnya Turki Utsmani, maka fitnah ini berkembang tanpa bisa dibendung. Ia terus menggelinding bagai bola salju yang terus membesar. Fitnah atheisme, humanisme, sekulerisme, liberalisme, kapitalisme, sosialisme dan demokrasi berkembang di hampir seluruh belahan dunia Islam. Di tubuh umat Islam sendiri muncul pemikiran dan paham sesat yang tidak kalah parahnya. Berkembangnya Syi’ah pasca revolusi Iran, tumbuhnya paham murji’ah ghulat dan takfiri ekstrim, semua makin melengkapi sempurnanya fitnah duhaima’.
Kombinasi dari semua paham tadi melahirkan stigma baru pada umat Islam dengan isu terorisme global. Isu inilah yang merekatkan semua kepingan puzzle duhaima’, dan pada isu inilah fitnah yang menimpa umat Islam melebar di hampir semua lini kehidupan. Fitnah duhaima’ akan membelah manusia menjadi dua kelompok besar; kelompok mukmin yang tidak tercampur dengan kemunafikan dan kelompok munafik yang tidak memiliki keimanan. Hal yang serupa juga bisa terjadi pada isu fitnah perang melawan terorisme.
Kami menduga – dan hakikat yang sesungguhnya kita serahkan kepada Allah – bahwa peristiwa fitnah Terorisme adalah hakikat dari fitnah Duhaima’ atau setidaknya merupakan bagian dari Fitnah Duhaima’ itu sendiri. Perang terhadap terorisme yang dikampanyekan oleh bangsa Barat (Amerika) dan sekutunya terus berlangsung hingga kini. Sungguh fitnah perang melawan terorisme ini akan membelah manusia dalam dua kelompok; mukmin sejati yang tanpa sedikit pun dicemari oleh kemunafikan dan kelompok munafik yang tidak memiliki keimanan. Kelompok mukmin sejati adalah mereka yang bersama para mujahidin, membelanya dan memberikan dukungan secara moril dan materi. Sedangkan kelompok munafik adalah umat Islam yang memberikan bantuan dan pembelaan kepada para thaghut kuffar dalam memerangi kaum muslimin.
Sesungguhnya efek fitnah Duhaima’ ini akan memaksa setiap orang untuk memilih salah satu dari dua kubu; kubu keimanan yang tidak tercampuri dengan kemunafikan dan kubu kenifakan yang tidak terdapat keimanan sedikitpun di dalamnya.
Pada titik inilah muncul fitnah baru yang dibangun dari asumsi fitnah Duhaima’. Di antara kelompok umat Islam ada yang memaksakan hadits ini untuk mendukung kelompok mereka. Berangkat dari isu khilafah dan klaim kebenaran tunggal, maka siapapun yang tidak bergabung atau berbaiat, terlebih melawan dan memerangi khilafah, maka ia berada di kubu munafik. Maka dampak dari pemahaman ini adalah tumpahnya darah kaum muslimin tanpa hujjah yang nyata.
Riwayat tentang fitnah Duhaima’ berkaiatan erat dengan fase kekhilafahan Imam Mahdi yang diakui oleh seluruh umat Islam, bukan kekhilafahan selainnya. Dengan demikian kesimpulan terbelahnya umat menjadi mukmin dan munafik hanya terjadi secara sempurna di zaman Imam Mahdi. Siapa yang bergabung dengan Imam Mahdi yang sah, maka semoga dialah mukmin sejati, dan yang menolaknya maka dia terancam dengan kemunafikan.
Meski demikian, hakikat terbelahnya umat dalam dua kemah; keimanan dan kemunafikan, hanya akan terjadi secara total setelah perjuangan Imam Mahdi masuk di babak akhir; sebelum bertemu dengan Dajjal. Nash pada fitnah Duhaima’ berbunyi: sehingga manusia terbagi menjadi dua kemah, kemah keimanan yang tidak mengandung kemunafikan dan kemah kemunafikan yang tidak mengandung keimanan. Jika itu sudah terjadi, maka tunggulah kedatangan Dajjal pada hari itu atau besoknya.”[2]

Comments

Popular posts from this blog

5 Fakta Tentang Islam yang Diyakini Oleh Orang-Orang Barat